Mobil Indonesia

Nih, Skema Mobil Murah dari Pemerintah

JAKARTA, KOMPAS.com — Ambisi Pemerintah Indonesia menelurkan program mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car) tampaknya agak tersendat. Pasalnya, regulasi yang tengah disusun sampai kini belum juga dikeluarkan, membuat sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) terus menunggu. Bahkan, target penerbitan aturan main terus molor dari target yang semula ditetapkan.

Nah, daripada menduga-duga kapan regulasi itu keluar, lebih baik menginformasikan bocoran-bocoran baru yang didengar Kompas.com langsung dari pejabat terkait. Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, mengatakan akan ada dua model yang lahir dari peraturan tersebut. “Intinya kami ingin menciptakan mobil produksi dalam negeri dengan kandungan lokal minimal 80 persen. Merek boleh apa saja, yang penting Indonesia jadi basis produksi,” kata Budi kepada Kompas.com, belum lama ini.

1.000 cc dan 1.200 cc

Mobil pertama dibatasi kapasitas mesinnya 1.000 cc ke bawah dengan konsumsi bahan bakar minimal 1 liter per 25 km. Kemudian, harga jualnya di bawah Rp 80 juta-Rp 90 juta per unit. Target konsumen adalah pengguna sepeda motor yang ingin beralih menggunakan mobil.

Tak cuma itu, kendaraan ini dijanjikan mendapatkan insentif fiskal berupa pemotongan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi 5 persen dari sebelumnya 10 persen. Syaratnya, setiap merek harus memproduksi mobil di dalam negeri dan memenuhi minimal kandungan lokal (Indonesia) 80 persen secara bertahap dalam tiga tahun.

Mobil kedua dengan mesin berkapasitas maksimal 1.200 cc dan konsumsi minimal 1 liter per 21-22 km. Untuk jenis ini, pemerintah sedikit lebih longgar dan memperbolehkan setiap merek merakit mobilnya di Indonesia (completely knocked down). Kandungan lokal juga tak dibatasi, yang penting mencakup minimum 40 persen konten ASEAN.

Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal serupa, pemotongan PPNBM 2,5 persen menjadi 7,5 persen dari sebelumnya 10 persen. Produk ini menjadi semacam kompensasi yang dikeluarkan pemerintah karena banyak merek global yang tengah mengembangkan mesin 1.200 cc, seperti Nissan, Honda, Toyota, dan Suzuki.

100.000 Unit

Untuk kedua jenis mobil yang menjadi konsep low cost and green car di atas, pemerintah mewajibkan setiap merek melakukan investasi mendirikan pabrik baru berkapasitas maksimum (terpasang) 100.000 unit per tahun. Berbeda dengan Thailand dengan Eco Car-nya yang mewajibkan setiap merek memproduksi mobil 100.000 unit per tahun.

Syarat ini mutlak dipenuhi setiap merek untuk mendapatkan insentif yang dijanjikan. Selain itu, pemerintah juga dikabarkan bekerja sama dengan eksekutif di daerah untuk menambah bentuk insentif terkait langsung dengan pembebanan pajak daerah: Pajak Bea Balik Nama dan Pajak Progresif.

Meski masih sekadar bocoran, info ini mudah-mudahan bisa berguna bagi pemangku keputusan, khususnya petinggi-petinggi otomotif di Indonesia.

MENGAPA BANYAK MOBIL SERUPA DI JALAN?

Pada suatu waktu, salah seorang petinggi perusahaan pembuat mobil asal Jepang, yang baru saja memulai tugasnya di Jakarta, bertanya, mengapa di negara ini banyak sekali mobil serupa yang lalu lalang di jalan raya? Beberapa wartawan yang diajaknya berbincang-bincang tidak dapat menjawabnya.

Dua setengah tahun sesudahnya, saat ia mengakhiri tugasnya di Jakarta, kepada wartawan yang sama ia mengatakan, ”Saya rasa, saya tahu jawabannya.” Menurut dia, di banyak negara orang memilih mobil yang akan dibelinya sesuai dengan kebutuhan dirinya. Namun, di Indonesia, sebagian besar orang memilih mobil yang akan dibelinya berdasarkan mobil yang dimiliki tetangga, keluarga, atau bahkan rekan kerjanya.

Masih menurut dia, itu yang menjelaskan mengapa kita melihat banyak sekali mobil serupa yang lalu lalang di jalan, di kompleks perumahan, serta diparkir di areal parkir di perkantoran, di mal, atau di pusat perbelanjaan.

Mengapa keadaannya seperti itu? Alasannya bisa sangat beragam, mulai dari malas berpikir mengenai mobil apa yang sesuai dengan kebutuhannya, sampai sikap tidak mau kalah dengan tetangga, keluarga, atau rekan kerjanya.

Bagi yang malas berpikir, akan memilih untuk bertanya-tanya kepada tetangga, keluarga, atau rekan kerja tentang mobil yang mereka miliki. Pertanyaannya pun sederhana saja. Bagaimana mobil itu, enak, bagus, irit, atau boros konsumsi bensinnya? Mereka terlalu malas untuk mendatangi show room serta mengecek atau membaca sendiri keunggulan mobil tersebut melalui brosur yang tersedia.

Membaca brosur atau membaca buku panduan adalah hal terakhir yang akan dilakukan oleh konsumen di Indonesia. Bukan hanya untuk urusan mobil, melainkan juga untuk urusan yang lebih sederhana, seperti telepon genggam (handphone) dan kamera digital. Orang lebih senang bertanya kepada teman yang memiliki telepon genggam atau kamera digital yang serupa daripada membaca buku panduannya.

Adapun bagi yang tidak mau kalah, hanya akan membeli mobil yang serupa dengan yang dimiliki tetangga atau rekan kerjanya. Merek atau model tidak penting bagi mereka.

Itu pula yang menjelaskan mengapa model mobil pertama yang dipasarkan pada suatu segmen tertentu, dan penjualannya melambung, dapat dipastikan bahwa mobil itu akan terus mendominasi segmen tersebut. Mobil-mobil lain yang menyusul masuk ke segmen tersebut hanya akan menjadi pelengkap, hanya menjadi yang kedua dan ketiga. Pengalaman menunjukkan bahwa untuk menjadi yang pertama itu hampir tidak mungkin. Simak saja Mitsubishi Colt T120, Suzuki APV, Toyota Kijang (sebelum Innova), Toyota Avanza, Honda Jazz, Honda CR-V (untuk menyebut beberapa), yang selama beberapa tahun berturut-turut terus mendominasi segmennya.

Mobil kota

Kebiasaan sebagian besar orang di Indonesia dalam membeli mobil itulah yang menjelaskan mengapa ada banyak sekali orang yang membeli mobil yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, misalnya seseorang membeli sebuah mobil yang dapat memuat tujuh orang, padahal setiap hari ia menggunakannya seorang diri. Atau ia membeli mobil yang panjangnya melebihi panjang car port di rumahnya sehingga ia harus memodifikasi pintu pagarnya agar pintu pagar dapat ditutup dan dikunci.

Padahal secara teoretis, seharusnya seseorang yang sehari-hari menggunakan mobilnya seorang diri dan tinggal di sebuah rumah mungil yang hanya mempunyai car port, maka mobil yang cocok baginya adalah sebuah mobil kota (city car) yang mungil. Jika ia memerlukan mobil yang lebih besar yang dapat memuat tujuh orang atau lebih untuk digunakan mudik pada saat Lebaran, atau untuk berlibur, maka ia dapat menyewanya.

Apalagi akhir-akhir ini rentang kapasitas mesin mobil kota yang mungil cukup lebar, mulai dari 800 cc, 1.000 cc, 1.100 cc, hingga 1.200 cc. Dari Chery QQ, Chevrolet Spark, Hyundai i10, Suzuki Karimun Estilo, hingga dua yang terbaru: Suzuki Splash dan Nissan March.

Dari konsumsi bahan bakarnya, jelas memelihara mobil kota jauh lebih murah daripada memelihara mobil yang dapat memuat tujuh orang. Dan, di saat pemerintah berniat melakukan pembatasan BBM bersubsidi, konsumsi bahan bakar menjadi persoalan yang besar.

Memang akhir-akhir ini jumlah pengguna mobil-mobil kota sudah semakin banyak, tetapi sayangnya sebagian besar orang Indonesia masih memilih mobil dengan cara yang lama, yakni melihat mobil yang dimiliki tetangga, keluarga, atau bahkan rekan kerjanya.

This entry was posted in Otomotif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply